Pages

Monday, April 29, 2013

KUMPULAN PUISI MUSFIK



ANALEKTA 
            ;vee
1/
serampai rindu mengendap pada senja mengabut
berkisah pada malam pualam
tentang_aku yang dilindas waktu
;sebentuk sabotase mengingatmu

lalu kau tumbuh serupa kembang dikuncup bidara
aku memetikmu sebelum embun, lalu kau mendarahiku
serupa sepadang sajak nyala

tahukah, darahku bersimbah
menjadikanmu kata yang tak usai kueja
_hanyut melebur dalam sajakku.

2/
adalah surga yang jatuh diputikmu
lesup terpahat rindu
sementara pagi mengembul mengeringkan pelan

aku menjemputmu dengan sebilah mawar yang hampir melayu disajakku
aku menanamnya seusai september yang bisu
terimalah sebagai setandan melankoli; mawarku merindumu

3/
jika malam mengisahkan awan yang berpendar serupa kunang
aku melukismu, sebasah perjumpaan semu
sementara sengaumu yang berserakan dirintik hujan
seakan meminangku menjadi gerimis
meresap diseonggok tanah; menguap
menjadi embun yang berarak
lalu pecah menumpah hujan

4/
_malam berkincir memekikku
pada lipatan waktu yang memburuku
dipenghujung syair rembulan keseribu
aku menemuimu
dipusara tempat menunggu.

2013

MEMORANDA BASAH
            _mengenangmu

bulan meruncing menusuk  rindu perlahan
setelah hujan, nganga luka yang menyisahkan gerimis
sekutip sujud yang terus saja basah
seakan garang mengusir malam, menjadi pualam
baru saja sekelabat sajak yang kilap
tegak serupa alifmu, melahirkan bayi yang sulit kutebak

“lantas diranting mana kau sisakan gelegak tawa
yang tak sampai gunung memekiknya
sementara embun meleburmu serupa abu”

disebaris musim tersingkap layu
aku merampungkan tangis
yang tak mungkin reda untuk hari ini
serumpun kisah beku dipadang rindu
menjelma sederai bayang yang melumut
meringkuk dirapat rusuk.

 2013

Biodata: Musyfiq adalah mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia II STKIP PGRI Sumenep. Antologi puisinya, Langit Basah (Djogja 2011), Kulit Langsat (Obor Februari 2013)

OPINI



Kami Butuh Penunjuk Arah
Proses kaderisasi adalah proses regenerasi yang sangat vital dalam organisasi karena di punggung merekalah akan dititipkan jejak perjuangan semangat para penggerak bangsa. Mereka mempunyai kelebihan dan keterbatasan yang berbeda sehingga untuk memperlakukan mereka tidaklah sama satu dengan yang lain.
Hanya sedikit kekuatan yang dapat diperlihatkan oleh seseorang saat kita tidak benar-benar mengenal mereka lebih dekat, dan lebih banyak kekuatan tersembunyi yang tidak mereka sadari. Oleh karena itu, kader tidak hanya diawasi tapi juga perlu dibina dan didampingi sehingga mereka mampu melihat sisi terbaik yang mereka punya untuk dibangkitkan.
Sebagai seorang senior tentunya sangat bijak jika memberikan penunjuk arah pada kader agar mereka mengerti kemana mereka akan melangkah, bukan malah menyalahkan mereka saat mereka tidak pernah menghubungi para senior. Bukankah mereka masih butuh penunjuk arah akan jalan pergerakan?
Kita menghadapi orang-orang yang berbeda baik dalam hal intelektual ataupun dalam semangat. Sebagai penunjuk arah, kita akan melihat potensi mereka dan memadukan potensi berbeda yang dimiliki hingga membentuk kekuatan yang kompleks dan saling melengkapi.
Proses pendampingan adalah proses pendekatan seorang senior untuk membangkitkan kekuatan besar yang dimiliki oleh seorang kader, bukan proses menunggu seorang kader untuk memperlihatkan kekuatannya sendiri.
Adalah tugas bersama untuk menjadikan kader sebagai ujung tombak kekuatan terbesar yang akan menggantikan posisi senior kelak. Sebagai warga pergerakan yang punya visi dan misi bersama, tentu semua langkah pergerakan harus sesuai dengan visi dan misi tersebut, bukan malah mengandalkan berbagai cara untuk kepentingan pribadi yang malah banyak merugikan bahkan menciderai kader lalu berdalih sebagai usaha untuk membimbing mereka menggapai visi misi bersama.
Menyalahgunakan jabatan seorang senior hanya untuk kepentingan pribadi yang berdampak negatif adalah awal dari kehancuran organisasi meskipun hanya ada sebagian kecil yang melakukannya, namun semuanya akan tercemar. Nama organisasi akan jelek di mata kader atau bahkan masyarakat.
Untuk mengantsipasi hal itu, tentunya harus ada sanksi tegas bagi senior yang perbuatannya sudah keluar dari visi dan misi organisasi, bukan malah membiarkannya dan mengatakan bahwa itu adalah rahasia internal yang tidak patut untuk dibuka. Namun jika seorang koruptor di negara ini dibiarkan dan tidak diberikan sanksi yang tegas, akan jadi apa negara ini? Tentunya ini juga berlaku untuk organisasi.
Jika penyakit ganas seperti kusta dan diabetes sudah tidak mampu ditangani dengan baik, maka jalan terakhir adalah melakukan amputasi agar tidak menyebar dan bertambah buruk terhadap organ-organ tubuh yang lain. Tidak berbeda jauh dengan organisasi. Jika pelanggaran yang sudah dilakukan baik kader ataupun senior sudah tidak bisa ditolerir, jangan malah melindungi mereka, karena hal ini hanya akan membuat organisasi semakin cacat.
“Tidak boleh kita membela ketidakbenaran dalam organisasi. Inilah yang menjadi awal kehancuran sebuah organisasi,” ungkap Pusawi, mantan Ketua Cabang PMII Sumenep.
Mahasiswa memang merupakan agent of change, namun tanpa pengetahuan yang cukup dari senior sangat kecil kemungkinan mereka untuk menemukan sendiri arah pergerakan. Mereka butuh pendamping yang akan membangunkan mereka dari tidurnya hingga mereka bangkit dan punya semangat juang meneteskan darah pergerakan untuk oraganisasi tercinta yang membesarkan mereka.
Kemana mereka akan melangkah sangat cenderung mengikuti kemana penunjuk arah yang berada di dekatnya. Jika sang penunjuk arah bisa menunjukkan arah mata angin yang benar, mereka akan menjadi orang yang membanggakan. Namun jika sang penunjuk arah juga tidak tahu dan bahkan tidak mau menunjukkan arah, ada kemungkinan mereka malah akan meragukan kualitas kita sebagai penunjuk arah.
Bahkan para pecinta alam yang telah ribuan kali melintasi hutan di alam semesta pun masih membutuhkan kompas sebagai penunjuk arah. Memang sangat membanggakan bagi seorang senior saat melihat seorang kader dengan semangat api yang ada di pundaknya datang dengan tersenyum untuk meminta pendampingan, namun lebih membanggakan lagi jika mereka mendapat uluran tangan agar semangat api yang mereka punya dapat berkobar ke seluruh samudera pergerakan. Kader butuh pendampingan agar mereka tidak seperti anak ayam kehilangan induknya.

cerpen



Cintaku Adalah Bintang, Bukan Senja
Masih ku ingat jelas di suatu senja saat warna langit berubah dari biru menjadi kuning kemerah-merahan. Di bawah pohon beringin, kita selalu menikmati keindahana terbenamnya matahari dari atas bukit tempat kita berdua saling memadukan kasih, melukiskan sejarah cinta, tempat yang telah menjadi saksi bisu kekuatan cinta kita saat tertawa bahkan saat menangis.
Namun sayang, hubungan yang telah kita rajut selama empat tahun ternyata harus kandas di tengah jalan saat kau memutuskan untuk bersama orang lain setelah aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.
“Dim, maafkan aku. Tolong izinkan aku bahagia bersama orang lain,” pintamu dengan nada rendah namun menggoreskan luka yang teramat dalam.
“Tapi kenapa Rin? Aku begitu menyayangimu. Aku tidak mau kehilanganmu apalagi melepasmu untuk orang lain.”
“Kau terlalu sibuk dengan kehidupanmu sementara aku disini butuh perhatianmu. Saat aku kesepian, dia lah yang menemaniku. Kemana saja kau saat itu?”
“Aku tahu kau butuh perhatianku, tapi juga tidak setiap saat kan? Aku juga punya kehidupan, Rin.”
“Ya sudah, mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kita. Mulai sekarang kau bisa menghabiskan waktu untuk kehidupanmu.”
Aku memang tak punya banyak waktu untuk Rina yang selalu ingin diperhatikan setiap saat. Kehidupanku bukan hanya untuk dia karena aku juga punya kehidupan dan aku juga harus meluangkan waktu untuk diriku sendiri, namun tak bisa dipungkiri bahwa aku juga butuh dia untuk mendampingiku. Entah siapa yang salah, aku atau dia, tapi yang jelas aku masih tidak rela untuk melepasnya pada orang lain.
Harus ku terima kenyataan pahit ini. Alam yang menjadi saksi berakhirnya kisah dua insan itu hanya diam membisu. Mataku mulai berbinar-binar menahan luka dari orang yang selalu aku banggakan, tak kuasa air mata pun mulai mengalir membasahi pipi. Aku hanya bisa memandang Rina dengan tatapan penuh harapan agar dia kembali menarik kata-katanya. Tapi bukan itu yang terjadi. Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi,”Dim, maafkan aku,” ungkapnya sambil pergi meninggalkanku bersama terbenamnya matahari di ufuk barat.
Itulah sebabnya kini aku sangat membenci senja karena ia tak bisa berbuat apa-apa saat aku hanya diam tak berdaya melepas seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku untuk orang lain yang tak jelas ku ketahui. Saat orang lain mulai membicarakan tentang keindahan senja, hanya aku sendiri yang menatapnya sebagai sebuah kebencian.
Entah apakah ini yang dinamakan sebuah perpisahan? Aku tidak tahu, tapi yang jelas ada luka dalam cintaku. Semua kenangan manis telah berubah menjadi sebuah kebencian. Setelah aku korbankan banyak hal, ternyata harus berakhir seperti ini. “Aku memang mencintaimu tapi aku benci caramu mencintaiku”.
Kini aku sendiri. Tak ada siapapun. Semua sahabatku telah ku tinggalkan demi Rina yang tidak suka melihatku dekat dengan wanita lain selain dia. Aku tidak punya siapapun dan aku mulai merasa bahwa kehidupanku sekarang tidak ada artinya.
Hidupku tak punya tujuan dan aku mulai berpikir untuk segera mengakhiri kehidupan yang tak berguna ini. Aku merasa Tuhan tak adil. Setelah aku kehilangan semua sahabatku, kenapa Dia juga mengambil satu-satunya orang yang ku miliki? Ingin rasanya ku bunuh Tuhan jika aku mampu.
Malam semakin larut, namun mataku tak kunjung terpejam untuk mengakhiri cerita ini walau hanya sementara. Tergeletak di atas tempat peristirahatan dengan pikiran hanya tertuju pada Rina, wanita yang dulu pernah menjadi malaikat, namun kini hanya menyisakan luka. Tetesan air mata semakin deras terkucur di pipi dan tak ada yang bisa menghentikannya kecuali dengan memejamkan mata dan melupakannya dalam tidur.
Suara kokok ayam jantan memecah kebisuan menandakan pagi telah datang. Tapi tetap saja tak ada yang berubah, hanya sakit yang terasa menghujam di hati. Tak ada yang ingin ku lakukan selain ingin melupakan masa kemarin dan mencoretkan cerita baru dalam lembaran yang akan ku isi di hari esok. Namun apa daya tangan tak sampai, semua itu sia-sia.
Semua yang ku lakukan tak bisa menyita perhatianku meski sejenak. Ku coba untuk menyentuh gitar kesayanganku yang selalu setia untuk ku mainkan. Hanya ada alunan lagu melo yang bisa dimainkan dalam situasi hati seperti ini. Ku hentikan saja karena itu hanya menyesakkan dada.
Bermain game, bermain bola, berkumpul dengan teman-teman, membaca buku, jalan-jalan, semuanya telah ku lakukan, namun percuma saja. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatianku selain pada kejadian kemarin di atas bukit tempat aku dan Rina selalu berbagi kasih. Perasaan putus asa tak sedikitpun hilang, malah semakin kuat. Entah apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan atau malah dia sekarang sudah bahagia menikmati kehidupan barunya bersama orang lain. Aku hanya bisa terdiam lemah.
Hari-hariku mulai terasa semakin tak berguna. Semakin kuat perasaan ini untuk segera mengakhiri kehidupan yang hanya diselimuti oleh takdir buruk. Ya, ingin rasanya aku bunuh diri sekarang. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan hidup tanpa orang yang ku sayangi. Aku sudah benar-benar buta sekarang, buta mata hati.
“Dim, apa kau sudah gila? Kau relakan hidupmu hanya untuk satu orang? Kau korbankan hidupmu untuk satu orang yang telah menghancurkanmu dan mengabaikan banyak orang yang memperhatikanmu?”
“Tapi satu orang itu lebih berarti dari banyak orang yang memperhatikanku, Mel.”
“Dan sekarang dia telah menghancurkan kehidupanmu. Masihkah kau menganggapnya berarti?”
“Ya!” tegasku.
“Dim, lihatlah aku, lihatlah orang tuamu, lihatlah orang-orang yang mencintaimu. Apa yang akan terjadi pada senyum mereka saat melihatmu sudah tak bernafas lagi? Kami semua menyayangimu, Dim!” air mata Melly mulai jatuh bercucuran meyakinku.
“Aku tahu, Mel. Tapi aku sudah tidak kuat untuk menghadapi semua kenyataan ini. Aku capek!”
“Dim, aku tahu ini berat untukmu, tapi dengan kamu bunuh diri apa semuanya akan selesai? Tidak, Dim.”
“Setidaknya aku tidak akan pernah lagi merasakan sakit hati.”
“Please . . ! Dengarkan aku kali ini saja!” tiba-tiba Melly mulai memeluk tubuhku. Air matanya tak bisa ia bendung lagi, ku rasakan pundakku mulai basah karena isak tangisnya. Jantungnya berdetak kencang pertanda ia sangat berat untuk membiarkanku melakukan hal semacam itu.
“Maafkan aku karena dulu aku sempat meninggalkanmu. Kamu memang sahabatku. Terima kasih, Mel!” mataku mulai berkaca-kaca tapi aku berusaha untuk tetap tegar. Ku lepaskan sosok wanita itu dari pelukan dan ku hapus air mata di pipi sahabat kecilku.
Meski Melly telah mencurahkan banyak waktu untuk berusaha membuatku kembali seperti dulu lagi, namun tak mudah untukku melupakan semuanya dan mengobati luka ini. Kehadirannya tak begitu membuat banyak perubahan, hanya saja ia ada saat aku butuh seseorang untuk mendengarkanku.
“Dim, kamu ingat sewaktu kecil kita sering ke tempat ini hanya untuk melihat indahnya bintang tiap malam?”
“Aku ingat, Mel!” jawabku sambil tersenyum.
“Aku tahu kau sangat mengagumi keindahan bintang yang memancarkan cahaya terang untuk planet-planet termasuk bumi. Kau pernah bilang ingin seperti bintang yang mampu memberikan cahaya untuk orang lain.”
Ada yang aneh, kurasakan detak jantung ini, perasaan itu muncul lagi. Perkataan Melly seolah mengingatkanku akan semangat yang dulu pernah hidup dalam masa kecilku. Semangat yang dulu selalu ku tunjukkan pada orang-orang di sisiku namun telah meredup saat aku mulai jatuh cinta pada senja yang mempertemukanku dengan Rina. Kini senja telah mengkhianatiku dan sudah saatnya aku mulai mewujudkan cita-citakuku untuk menjadi bintang.
“Kau benar, Mel. Bintang selalu memancarkan cahayanya setiap saat bahkan saat aku tak menyadarinya. Setiap malam aku tak pernah memperhatikannya lagi namun sampai sekarang ia tetap kokoh berdiri di atas sana, tersenyum memberikan cahayanya untuk seluruh planet”
“Dan kau . . ” Melly menunjuk ke arah hatiku,“Kau adalah bintang yang akan menyinari orang-orang di sekitarmu.”
Apa yang dikatakan Melly memang benar. Untuk menjadi sebuah bintang, aku harus tetap tegar dan tetap berdiri kokoh memancarkan cahayanya kepada semua orang tanpa terkecuali. “Tak ada yang perlu kau sesali dan tak ada yang perlu kau benci. Bintang selalu memancarkan cahaya kesucian,” itulah kata-kata Melly yang telah membangkitkan sinar redupku.
“Tuhan, terima kasih atas rencana indahMu. Sekarang aku benar-benar menyadari bahwa ada rencana indah di setiap kejadian yang Kau skenariokan. Kau ambil semua orang yang aku cintai. Kau ambil orang-orang yang telah membuatku menggantungkan kebahagian pada mereka dan sekarang aku sadar bahwa Kau memberi kepercayaan padaku untuk membahagiakan orang lain bukan malah menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.
Dan untuk Rina, semoga kau bahagia dengan orang yang kau pilih. Kau tak perlu khawatir, cintaku tetap ada disini untukmu meski ku tahu kau takkan membutuhkannya lagi. Jika suatu saat nanti kau merindukanku, lihatlah bintang yang paling terang memancarkan cahaya indhanya karena disanalah aku berada untuk selalu menerangimu.”

Sumenep, 8 April 2013
Anton Hermawan

CERPEN



Surat Rindu
Maaf, bukan maksudku untuk menjadikanmu boneka dalam kisah ini. Sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Atas nama persahabatanlah aku lakukan semua ini. Bukan maksudku tak menggangapmu ada. Andai saja aku bisa mengatakan semua kenyataan ini. Biarlah gemuruh petir dan derasnya hujan di malam ini yang menjadi saksi. Maaf bukan maksudku merekayasa keadaan. Sungguh aku tak bermaksud mempermainkan takdir. Maaf, bukan maksudku membohongi nurani. Hanya saja aku tak sanggup melihat kenyataan. Apakah kau percaya bahwa setiap kisah cinta itu selalu happy ending? Aku tak pernah percaya itu ada. Adakalanya kisah cinta itu bukan happy ending. Apakah kau ingat kisah cinta Romeo and Juliet atau kisah cinta Laila Majnun? Jadi kau tak perlu khawatir. Tak selamanya kisah cinta selalu berakhir dengan senyuman.
Sedari dulu aku tak pernah menginginkanmu menjadi indah dalam hidupku. Namun aku tak mampu sendiri untuk tidak mencintaimu. Karena kaulah yang aku cinta, dan hanya engkau pula yang selalu aku rindu.
Ketika aku tersadar akan adanya dia yang selalu mengertikan kamu, seakan aku berada di jurang yang sungguh sangatlah dalam akan kehilanganmu. Karena aku tahu, dia lebih dekat dan selalu bersamamu. Aku tahu, kamu adalah kekasihku. Dan juga aku tahu, aku dan kamu tak bisa terpisahkan jarak dan waktu. Namun apalah daya. Dia adalah sahabatku. Dan juga sahabat terbaikmu yang selalu menemanimu hingga akhir waktu (bukankah begitu dia berjanji kepadamu).
Namun surat ini akan mengajakmu untuk berdendang lagu cinta dengan masa lalu saat kau masih utuh untukku. Ya saat-saat kau masih tersenyum ria dalam peluk resahku. Aku tahu kamu disitu sangat membenciku. Namun aku juga tahu bagaimana membahagiakanmu. Walaupun aku juga tahu, aku bukanlah untukmu lagi. Tetapi itu kan kata kita dengan orang yang memilikimu. Namun bagi Tuhan, kita tetap saja ada waktu untuk bersama. Kecuali kau telah menghindar dan pergi lebih dulu dariku, dari dunia ini.
Apakah kau tahu mengapa aku lebih memilih persahabatan daripada cinta? Pasti kau tahu apa jawabnya. Pengorbanan sahabatku untuk mendapatkan cintamu lebih besar. Aku sendiri yang melihatnya. Saat hujan deras di sore hari, ketika dia mendengar kau jatuh sakit, dia berlari tak meperdulikan hujan dan senandung petir yang bergemuruh. Padahal saat itu, tak ada satu kendaraan umumpun melintas. Dia terus berlari menuju rumahmu yang terletak tidak jauh dari taman kota tempat kita biasa menghabiskan waktu untuk melihat pelangi setelah hujan. Tapi sayang, saat itu kau sedang tertidur lelap dan dia tak berani mengusik alam mimpimu.
Dia rela dihukum di bawah terik matahari demi kau. Apa itu semua masih belum cukup? Maaf  kalau aku tak pernah melakukan apa-apa demi kamu. Karna itu, aku menginginkanmu untuk merajut kisah cintamu dengan sahabatku. Aku yakin kisah itu tak akan berakhir dengan air mata. Aku yakin Romeo dan Juliet ataupun Lailai Majnun tak akan terjadi pada kisah kalian. Yakinlah kekasih! Bukan denganku kisah itu akan berakhir bahagia. Kau tak perlu khawatir. Jika kau perduli denganku, pergilah bersamanya dan ciptakan kisah cinta yang indah. Kelak jika waktu mempertemukan kita kembali, ceritakanlah kisah indah itu padaku agar aku percaya bahwa masih ada kisah cinta yang berakhir dengan senyuman.
Jika waktu tak berpihak, biarlah kisah cinta yang indah itu terlukis pada rangkaian warna pelangi yang akan muncul setelah hujan atau terangkai pada nyayian pipit yang menyambut senyum sang mentari dan bersinar bersama cahaya kunang-kunang di tengah redupnya alam.
Namun tak apalah. Hidup memang penuh pilihan kekasih. Maka aku akan mengajarimu dengan sebuah bingkai tentang keindahan hidup itu. Walaupun memang kau pasti membenciku kini. Kisah awal aku memutuskanmu adalah karena sahabatku yang tak pernah kau mau. Namun harus kamu tahu, bahwa dia sungguh sangatlah mencintaimu.
 
Kekasih percayalah, hujan kemarin sore akan memunculkan pelangi yang keindahannya kekal di hati setiap insan yang memiliki cinta. Aku yakin, dengan kelembutan dan kehangatan yang dimiliki sahabatku, pelangi itu akan selalu hadir di hatimu sebagai insan yang memiliki cinta. Cintailah dia wahai kekasihku dan belajarlah untuk melupakan orang yang tak mampu untuk membahagiakanmu. Aku sadari itu ketika kau sendiri bilang kepadaku bahwa aku pengecut. Setelah itu kau lari dan pergi meninggalkanku. Seandainya kau masih disini, di tempat dulu kita bertemu. Dan kau mau mendengarkan akan ceritaku kenapa memutuskanmu. Mungkin kau akan tak sebegitu bencinya kepadaku.
“aku hanya ibarat lelaki jalang yang sering kemana pergi mencari kasih sayang perempuan”.
Dan tak usahlah kau tangisi aku. Genggamlah dia sebagai penggantiku disampingmu. Kaupun tahu nanti seperti apa cintanya kepadamu. Aku tak mampu melihatnya menangis ketika kau bersamaku. Aku tak bisa membuatnya begitu sakit karena egoku untuk hidup bersamamu. Dan sekarang, aku berharap kau bahagia dengannya. Salam senandung rindu dariku kepadamu.



Pamekasan, 03 April 2013
MUSFIEK

Our Blogger Templates Web Design

About This Blog

Pages

About

Recent Post

Slider(Do not Edit Here!)

Navigation (Do not Edit Here!)

Powered by Blogger.

Pages - Menu

Followers

Search Article Here