ANALEKTA
;vee
1/
serampai rindu
mengendap pada senja mengabut
berkisah pada malam
pualam
tentang_aku yang
dilindas waktu
;sebentuk sabotase
mengingatmu
lalu kau tumbuh
serupa kembang dikuncup bidara
aku memetikmu
sebelum embun, lalu kau mendarahiku
serupa sepadang
sajak nyala
tahukah, darahku
bersimbah
menjadikanmu kata yang
tak usai kueja
_hanyut melebur dalam
sajakku.
2/
adalah surga yang
jatuh diputikmu
lesup terpahat rindu
sementara pagi
mengembul mengeringkan pelan
aku menjemputmu
dengan sebilah mawar yang hampir melayu disajakku
aku menanamnya
seusai september yang bisu
terimalah sebagai
setandan melankoli; mawarku merindumu
3/
jika malam mengisahkan
awan yang berpendar serupa kunang
aku melukismu, sebasah
perjumpaan semu
sementara sengaumu
yang berserakan dirintik hujan
seakan meminangku
menjadi gerimis
meresap diseonggok
tanah; menguap
menjadi embun yang
berarak
lalu pecah menumpah
hujan
4/
_malam berkincir
memekikku
pada lipatan waktu
yang memburuku
dipenghujung syair
rembulan keseribu
aku menemuimu
dipusara tempat
menunggu.
2013
MEMORANDA BASAH
_mengenangmu
bulan meruncing
menusuk rindu perlahan
setelah hujan, nganga
luka yang menyisahkan gerimis
sekutip sujud yang
terus saja basah
seakan garang mengusir
malam, menjadi pualam
baru saja sekelabat
sajak yang kilap
tegak serupa alifmu,
melahirkan bayi yang sulit kutebak
“lantas diranting
mana kau sisakan gelegak tawa
yang tak sampai
gunung memekiknya
sementara embun
meleburmu serupa abu”
disebaris musim tersingkap
layu
aku merampungkan
tangis
yang tak mungkin reda
untuk hari ini
serumpun kisah beku
dipadang rindu
menjelma sederai
bayang yang melumut
meringkuk dirapat
rusuk.
2013
Biodata: Musyfiq adalah mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia II STKIP PGRI Sumenep. Antologi puisinya, Langit
Basah (Djogja 2011), Kulit Langsat (Obor Februari 2013)


0 comments:
Post a Comment