Cintaku Adalah Bintang, Bukan Senja
Masih ku ingat jelas di suatu
senja saat warna langit berubah dari biru menjadi kuning kemerah-merahan. Di
bawah pohon beringin, kita selalu menikmati keindahana terbenamnya matahari
dari atas bukit tempat kita berdua saling memadukan kasih, melukiskan sejarah
cinta, tempat yang telah menjadi saksi bisu kekuatan cinta kita saat tertawa
bahkan saat menangis.
Namun sayang, hubungan yang
telah kita rajut selama empat tahun ternyata harus kandas di tengah jalan saat
kau memutuskan untuk bersama orang lain setelah aku terlalu sibuk dengan
duniaku sendiri.
“Dim, maafkan aku. Tolong
izinkan aku bahagia bersama orang lain,” pintamu dengan nada rendah namun
menggoreskan luka yang teramat dalam.
“Tapi kenapa Rin? Aku begitu
menyayangimu. Aku tidak mau kehilanganmu apalagi melepasmu untuk orang lain.”
“Kau terlalu sibuk dengan
kehidupanmu sementara aku disini butuh perhatianmu. Saat aku kesepian, dia lah yang
menemaniku. Kemana saja kau saat itu?”
“Aku tahu kau butuh
perhatianku, tapi juga tidak setiap saat kan? Aku juga punya kehidupan, Rin.”
“Ya sudah, mungkin ini yang
terbaik untuk hubungan kita. Mulai sekarang kau bisa menghabiskan waktu untuk
kehidupanmu.”
Aku memang tak punya banyak
waktu untuk Rina yang selalu ingin diperhatikan setiap saat. Kehidupanku bukan
hanya untuk dia karena aku juga punya kehidupan dan aku juga harus meluangkan
waktu untuk diriku sendiri, namun tak bisa dipungkiri bahwa aku juga butuh dia
untuk mendampingiku. Entah siapa yang salah, aku atau dia, tapi yang jelas aku
masih tidak rela untuk melepasnya pada orang lain.
Harus ku terima kenyataan
pahit ini. Alam yang menjadi saksi berakhirnya kisah dua insan itu hanya diam membisu.
Mataku mulai berbinar-binar menahan luka dari orang yang selalu aku banggakan, tak
kuasa air mata pun mulai mengalir membasahi pipi. Aku hanya bisa memandang Rina
dengan tatapan penuh harapan agar dia kembali menarik kata-katanya. Tapi bukan
itu yang terjadi. Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi,”Dim, maafkan aku,”
ungkapnya sambil pergi meninggalkanku bersama terbenamnya matahari di ufuk
barat.
Itulah sebabnya kini aku
sangat membenci senja karena ia tak bisa berbuat apa-apa saat aku hanya diam
tak berdaya melepas seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku untuk
orang lain yang tak jelas ku ketahui. Saat orang lain mulai membicarakan
tentang keindahan senja, hanya aku sendiri yang menatapnya sebagai sebuah
kebencian.
Entah apakah ini yang
dinamakan sebuah perpisahan? Aku tidak tahu, tapi yang jelas ada luka dalam
cintaku. Semua kenangan manis telah berubah menjadi sebuah kebencian. Setelah
aku korbankan banyak hal, ternyata harus berakhir seperti ini. “Aku memang
mencintaimu tapi aku benci caramu mencintaiku”.
Kini aku sendiri. Tak ada
siapapun. Semua sahabatku telah ku tinggalkan demi Rina yang tidak suka
melihatku dekat dengan wanita lain selain dia. Aku tidak punya siapapun dan aku
mulai merasa bahwa kehidupanku sekarang tidak ada artinya.
Hidupku tak punya tujuan dan
aku mulai berpikir untuk segera mengakhiri kehidupan yang tak berguna ini. Aku
merasa Tuhan tak adil. Setelah aku kehilangan semua sahabatku, kenapa Dia juga
mengambil satu-satunya orang yang ku miliki? Ingin rasanya ku bunuh Tuhan jika
aku mampu.
Malam semakin larut, namun
mataku tak kunjung terpejam untuk mengakhiri cerita ini walau hanya sementara.
Tergeletak di atas tempat peristirahatan dengan pikiran hanya tertuju pada
Rina, wanita yang dulu pernah menjadi malaikat, namun kini hanya menyisakan
luka. Tetesan air mata semakin deras terkucur di pipi dan tak ada yang bisa
menghentikannya kecuali dengan memejamkan mata dan melupakannya dalam tidur.
Suara kokok ayam jantan
memecah kebisuan menandakan pagi telah datang. Tapi tetap saja tak ada yang
berubah, hanya sakit yang terasa menghujam di hati. Tak ada yang ingin ku
lakukan selain ingin melupakan masa kemarin dan mencoretkan cerita baru dalam
lembaran yang akan ku isi di hari esok. Namun apa daya tangan tak sampai, semua
itu sia-sia.
Semua yang ku lakukan tak bisa
menyita perhatianku meski sejenak. Ku coba untuk menyentuh gitar kesayanganku
yang selalu setia untuk ku mainkan. Hanya ada alunan lagu melo yang bisa
dimainkan dalam situasi hati seperti ini. Ku hentikan saja karena itu hanya
menyesakkan dada.
Bermain game, bermain bola, berkumpul dengan teman-teman, membaca buku,
jalan-jalan, semuanya telah ku lakukan, namun percuma saja. Tak ada yang bisa
mengalihkan perhatianku selain pada kejadian kemarin di atas bukit tempat aku
dan Rina selalu berbagi kasih. Perasaan putus asa tak sedikitpun hilang, malah
semakin kuat. Entah apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan atau malah
dia sekarang sudah bahagia menikmati kehidupan barunya bersama orang lain. Aku
hanya bisa terdiam lemah.
Hari-hariku mulai terasa
semakin tak berguna. Semakin kuat perasaan ini untuk segera mengakhiri
kehidupan yang hanya diselimuti oleh takdir buruk. Ya, ingin rasanya aku bunuh
diri sekarang. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan hidup tanpa orang yang ku
sayangi. Aku sudah benar-benar buta sekarang, buta mata hati.
“Dim, apa kau sudah gila? Kau
relakan hidupmu hanya untuk satu orang? Kau korbankan hidupmu untuk satu orang
yang telah menghancurkanmu dan mengabaikan banyak orang yang memperhatikanmu?”
“Tapi satu orang itu lebih
berarti dari banyak orang yang memperhatikanku, Mel.”
“Dan sekarang dia telah
menghancurkan kehidupanmu. Masihkah kau menganggapnya berarti?”
“Ya!” tegasku.
“Dim, lihatlah aku, lihatlah
orang tuamu, lihatlah orang-orang yang mencintaimu. Apa yang akan terjadi pada
senyum mereka saat melihatmu sudah tak bernafas lagi? Kami semua menyayangimu,
Dim!” air mata Melly mulai jatuh bercucuran meyakinku.
“Aku tahu, Mel. Tapi aku sudah
tidak kuat untuk menghadapi semua kenyataan ini. Aku capek!”
“Dim, aku tahu ini berat
untukmu, tapi dengan kamu bunuh diri apa semuanya akan selesai? Tidak, Dim.”
“Setidaknya aku tidak akan
pernah lagi merasakan sakit hati.”
“Please . . ! Dengarkan aku kali ini saja!” tiba-tiba Melly mulai memeluk tubuhku. Air matanya tak bisa ia
bendung lagi, ku rasakan pundakku mulai basah karena isak tangisnya. Jantungnya
berdetak kencang pertanda ia sangat berat untuk membiarkanku melakukan hal
semacam itu.
“Maafkan aku karena dulu aku
sempat meninggalkanmu. Kamu memang sahabatku. Terima kasih, Mel!” mataku mulai
berkaca-kaca tapi aku berusaha untuk tetap tegar. Ku lepaskan sosok wanita itu dari
pelukan dan ku hapus air mata di pipi sahabat kecilku.
Meski Melly telah mencurahkan
banyak waktu untuk berusaha membuatku kembali seperti dulu lagi, namun tak
mudah untukku melupakan semuanya dan mengobati luka ini. Kehadirannya tak
begitu membuat banyak perubahan, hanya saja ia ada saat aku butuh seseorang
untuk mendengarkanku.
“Dim, kamu ingat sewaktu kecil
kita sering ke tempat ini hanya untuk melihat indahnya bintang tiap malam?”
“Aku ingat, Mel!” jawabku
sambil tersenyum.
“Aku tahu kau sangat mengagumi
keindahan bintang yang memancarkan cahaya terang untuk planet-planet termasuk
bumi. Kau pernah bilang ingin seperti bintang yang mampu memberikan cahaya
untuk orang lain.”
Ada yang aneh, kurasakan detak
jantung ini, perasaan itu muncul lagi. Perkataan Melly seolah mengingatkanku
akan semangat yang dulu pernah hidup dalam masa kecilku. Semangat yang dulu
selalu ku tunjukkan pada orang-orang di sisiku namun telah meredup saat aku
mulai jatuh cinta pada senja yang mempertemukanku dengan Rina. Kini senja telah
mengkhianatiku dan sudah saatnya aku mulai mewujudkan cita-citakuku untuk
menjadi bintang.
“Kau benar, Mel. Bintang
selalu memancarkan cahayanya setiap saat bahkan saat aku tak menyadarinya.
Setiap malam aku tak pernah memperhatikannya lagi namun sampai sekarang ia
tetap kokoh berdiri di atas sana, tersenyum memberikan cahayanya untuk seluruh
planet”
“Dan kau . . ” Melly menunjuk
ke arah hatiku,“Kau adalah bintang yang akan menyinari orang-orang di
sekitarmu.”
Apa yang dikatakan Melly
memang benar. Untuk menjadi sebuah bintang, aku harus tetap tegar dan tetap
berdiri kokoh memancarkan cahayanya kepada semua orang tanpa terkecuali. “Tak
ada yang perlu kau sesali dan tak ada yang perlu kau benci. Bintang selalu
memancarkan cahaya kesucian,” itulah kata-kata Melly yang telah membangkitkan
sinar redupku.
“Tuhan, terima kasih atas rencana indahMu. Sekarang aku benar-benar
menyadari bahwa ada rencana indah di setiap kejadian yang Kau skenariokan. Kau
ambil semua orang yang aku cintai. Kau ambil orang-orang yang telah membuatku
menggantungkan kebahagian pada mereka dan sekarang aku sadar bahwa Kau memberi
kepercayaan padaku untuk membahagiakan orang lain bukan malah menggantungkan
kebahagiaan pada orang lain.
Dan untuk Rina, semoga kau bahagia dengan orang yang kau pilih. Kau tak
perlu khawatir, cintaku tetap ada disini untukmu meski ku tahu kau takkan
membutuhkannya lagi. Jika suatu saat nanti kau merindukanku, lihatlah bintang
yang paling terang memancarkan cahaya indhanya karena disanalah aku berada
untuk selalu menerangimu.”
Sumenep, 8 April 2013
Anton Hermawan


0 comments:
Post a Comment