Pages

Monday, April 29, 2013

cerpen



Cintaku Adalah Bintang, Bukan Senja
Masih ku ingat jelas di suatu senja saat warna langit berubah dari biru menjadi kuning kemerah-merahan. Di bawah pohon beringin, kita selalu menikmati keindahana terbenamnya matahari dari atas bukit tempat kita berdua saling memadukan kasih, melukiskan sejarah cinta, tempat yang telah menjadi saksi bisu kekuatan cinta kita saat tertawa bahkan saat menangis.
Namun sayang, hubungan yang telah kita rajut selama empat tahun ternyata harus kandas di tengah jalan saat kau memutuskan untuk bersama orang lain setelah aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.
“Dim, maafkan aku. Tolong izinkan aku bahagia bersama orang lain,” pintamu dengan nada rendah namun menggoreskan luka yang teramat dalam.
“Tapi kenapa Rin? Aku begitu menyayangimu. Aku tidak mau kehilanganmu apalagi melepasmu untuk orang lain.”
“Kau terlalu sibuk dengan kehidupanmu sementara aku disini butuh perhatianmu. Saat aku kesepian, dia lah yang menemaniku. Kemana saja kau saat itu?”
“Aku tahu kau butuh perhatianku, tapi juga tidak setiap saat kan? Aku juga punya kehidupan, Rin.”
“Ya sudah, mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kita. Mulai sekarang kau bisa menghabiskan waktu untuk kehidupanmu.”
Aku memang tak punya banyak waktu untuk Rina yang selalu ingin diperhatikan setiap saat. Kehidupanku bukan hanya untuk dia karena aku juga punya kehidupan dan aku juga harus meluangkan waktu untuk diriku sendiri, namun tak bisa dipungkiri bahwa aku juga butuh dia untuk mendampingiku. Entah siapa yang salah, aku atau dia, tapi yang jelas aku masih tidak rela untuk melepasnya pada orang lain.
Harus ku terima kenyataan pahit ini. Alam yang menjadi saksi berakhirnya kisah dua insan itu hanya diam membisu. Mataku mulai berbinar-binar menahan luka dari orang yang selalu aku banggakan, tak kuasa air mata pun mulai mengalir membasahi pipi. Aku hanya bisa memandang Rina dengan tatapan penuh harapan agar dia kembali menarik kata-katanya. Tapi bukan itu yang terjadi. Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi,”Dim, maafkan aku,” ungkapnya sambil pergi meninggalkanku bersama terbenamnya matahari di ufuk barat.
Itulah sebabnya kini aku sangat membenci senja karena ia tak bisa berbuat apa-apa saat aku hanya diam tak berdaya melepas seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupku untuk orang lain yang tak jelas ku ketahui. Saat orang lain mulai membicarakan tentang keindahan senja, hanya aku sendiri yang menatapnya sebagai sebuah kebencian.
Entah apakah ini yang dinamakan sebuah perpisahan? Aku tidak tahu, tapi yang jelas ada luka dalam cintaku. Semua kenangan manis telah berubah menjadi sebuah kebencian. Setelah aku korbankan banyak hal, ternyata harus berakhir seperti ini. “Aku memang mencintaimu tapi aku benci caramu mencintaiku”.
Kini aku sendiri. Tak ada siapapun. Semua sahabatku telah ku tinggalkan demi Rina yang tidak suka melihatku dekat dengan wanita lain selain dia. Aku tidak punya siapapun dan aku mulai merasa bahwa kehidupanku sekarang tidak ada artinya.
Hidupku tak punya tujuan dan aku mulai berpikir untuk segera mengakhiri kehidupan yang tak berguna ini. Aku merasa Tuhan tak adil. Setelah aku kehilangan semua sahabatku, kenapa Dia juga mengambil satu-satunya orang yang ku miliki? Ingin rasanya ku bunuh Tuhan jika aku mampu.
Malam semakin larut, namun mataku tak kunjung terpejam untuk mengakhiri cerita ini walau hanya sementara. Tergeletak di atas tempat peristirahatan dengan pikiran hanya tertuju pada Rina, wanita yang dulu pernah menjadi malaikat, namun kini hanya menyisakan luka. Tetesan air mata semakin deras terkucur di pipi dan tak ada yang bisa menghentikannya kecuali dengan memejamkan mata dan melupakannya dalam tidur.
Suara kokok ayam jantan memecah kebisuan menandakan pagi telah datang. Tapi tetap saja tak ada yang berubah, hanya sakit yang terasa menghujam di hati. Tak ada yang ingin ku lakukan selain ingin melupakan masa kemarin dan mencoretkan cerita baru dalam lembaran yang akan ku isi di hari esok. Namun apa daya tangan tak sampai, semua itu sia-sia.
Semua yang ku lakukan tak bisa menyita perhatianku meski sejenak. Ku coba untuk menyentuh gitar kesayanganku yang selalu setia untuk ku mainkan. Hanya ada alunan lagu melo yang bisa dimainkan dalam situasi hati seperti ini. Ku hentikan saja karena itu hanya menyesakkan dada.
Bermain game, bermain bola, berkumpul dengan teman-teman, membaca buku, jalan-jalan, semuanya telah ku lakukan, namun percuma saja. Tak ada yang bisa mengalihkan perhatianku selain pada kejadian kemarin di atas bukit tempat aku dan Rina selalu berbagi kasih. Perasaan putus asa tak sedikitpun hilang, malah semakin kuat. Entah apakah dia juga merasakan apa yang aku rasakan atau malah dia sekarang sudah bahagia menikmati kehidupan barunya bersama orang lain. Aku hanya bisa terdiam lemah.
Hari-hariku mulai terasa semakin tak berguna. Semakin kuat perasaan ini untuk segera mengakhiri kehidupan yang hanya diselimuti oleh takdir buruk. Ya, ingin rasanya aku bunuh diri sekarang. Aku sudah tidak sanggup melanjutkan hidup tanpa orang yang ku sayangi. Aku sudah benar-benar buta sekarang, buta mata hati.
“Dim, apa kau sudah gila? Kau relakan hidupmu hanya untuk satu orang? Kau korbankan hidupmu untuk satu orang yang telah menghancurkanmu dan mengabaikan banyak orang yang memperhatikanmu?”
“Tapi satu orang itu lebih berarti dari banyak orang yang memperhatikanku, Mel.”
“Dan sekarang dia telah menghancurkan kehidupanmu. Masihkah kau menganggapnya berarti?”
“Ya!” tegasku.
“Dim, lihatlah aku, lihatlah orang tuamu, lihatlah orang-orang yang mencintaimu. Apa yang akan terjadi pada senyum mereka saat melihatmu sudah tak bernafas lagi? Kami semua menyayangimu, Dim!” air mata Melly mulai jatuh bercucuran meyakinku.
“Aku tahu, Mel. Tapi aku sudah tidak kuat untuk menghadapi semua kenyataan ini. Aku capek!”
“Dim, aku tahu ini berat untukmu, tapi dengan kamu bunuh diri apa semuanya akan selesai? Tidak, Dim.”
“Setidaknya aku tidak akan pernah lagi merasakan sakit hati.”
“Please . . ! Dengarkan aku kali ini saja!” tiba-tiba Melly mulai memeluk tubuhku. Air matanya tak bisa ia bendung lagi, ku rasakan pundakku mulai basah karena isak tangisnya. Jantungnya berdetak kencang pertanda ia sangat berat untuk membiarkanku melakukan hal semacam itu.
“Maafkan aku karena dulu aku sempat meninggalkanmu. Kamu memang sahabatku. Terima kasih, Mel!” mataku mulai berkaca-kaca tapi aku berusaha untuk tetap tegar. Ku lepaskan sosok wanita itu dari pelukan dan ku hapus air mata di pipi sahabat kecilku.
Meski Melly telah mencurahkan banyak waktu untuk berusaha membuatku kembali seperti dulu lagi, namun tak mudah untukku melupakan semuanya dan mengobati luka ini. Kehadirannya tak begitu membuat banyak perubahan, hanya saja ia ada saat aku butuh seseorang untuk mendengarkanku.
“Dim, kamu ingat sewaktu kecil kita sering ke tempat ini hanya untuk melihat indahnya bintang tiap malam?”
“Aku ingat, Mel!” jawabku sambil tersenyum.
“Aku tahu kau sangat mengagumi keindahan bintang yang memancarkan cahaya terang untuk planet-planet termasuk bumi. Kau pernah bilang ingin seperti bintang yang mampu memberikan cahaya untuk orang lain.”
Ada yang aneh, kurasakan detak jantung ini, perasaan itu muncul lagi. Perkataan Melly seolah mengingatkanku akan semangat yang dulu pernah hidup dalam masa kecilku. Semangat yang dulu selalu ku tunjukkan pada orang-orang di sisiku namun telah meredup saat aku mulai jatuh cinta pada senja yang mempertemukanku dengan Rina. Kini senja telah mengkhianatiku dan sudah saatnya aku mulai mewujudkan cita-citakuku untuk menjadi bintang.
“Kau benar, Mel. Bintang selalu memancarkan cahayanya setiap saat bahkan saat aku tak menyadarinya. Setiap malam aku tak pernah memperhatikannya lagi namun sampai sekarang ia tetap kokoh berdiri di atas sana, tersenyum memberikan cahayanya untuk seluruh planet”
“Dan kau . . ” Melly menunjuk ke arah hatiku,“Kau adalah bintang yang akan menyinari orang-orang di sekitarmu.”
Apa yang dikatakan Melly memang benar. Untuk menjadi sebuah bintang, aku harus tetap tegar dan tetap berdiri kokoh memancarkan cahayanya kepada semua orang tanpa terkecuali. “Tak ada yang perlu kau sesali dan tak ada yang perlu kau benci. Bintang selalu memancarkan cahaya kesucian,” itulah kata-kata Melly yang telah membangkitkan sinar redupku.
“Tuhan, terima kasih atas rencana indahMu. Sekarang aku benar-benar menyadari bahwa ada rencana indah di setiap kejadian yang Kau skenariokan. Kau ambil semua orang yang aku cintai. Kau ambil orang-orang yang telah membuatku menggantungkan kebahagian pada mereka dan sekarang aku sadar bahwa Kau memberi kepercayaan padaku untuk membahagiakan orang lain bukan malah menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.
Dan untuk Rina, semoga kau bahagia dengan orang yang kau pilih. Kau tak perlu khawatir, cintaku tetap ada disini untukmu meski ku tahu kau takkan membutuhkannya lagi. Jika suatu saat nanti kau merindukanku, lihatlah bintang yang paling terang memancarkan cahaya indhanya karena disanalah aku berada untuk selalu menerangimu.”

Sumenep, 8 April 2013
Anton Hermawan

0 comments:

Post a Comment

Our Blogger Templates Web Design

About This Blog

Pages

About

Recent Post

Slider(Do not Edit Here!)

Navigation (Do not Edit Here!)

Powered by Blogger.

Pages - Menu

Followers

Search Article Here