Pages

Monday, April 29, 2013

ARTIKEL



Didik kader putri menjadi pelaku sejarah
bukan korban sejarah
ulifiyah*

Sejarah merupakan sebuah peristiwa masa lampau yang unik. Unik dalam artian, kejadian-kejadian ataupun peristiwa-peristiwa itu hanya terjadi satu kali dan tidak dapat diputar kembali, dan yang perlu diketahui bersama bahwasanya tidak semua kejadian itu disebut sebagai sejarah. Suatu kejadian dikatakan sejarah apabila memiliki nilai, makna dan berdampak besar terhadap kehidupan sehari-hari pasca dari kejadian tersebut.
Sejarah bisa menjadi super power bagi generasi muda yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam menatap masa depannya, tetapi janganlah berbangga hati karena dengan sejarah pula bangsa ini akan hancur manakala generasi tua tidak mampu mengarahkan generasi muda pada fakta yang sebenarnya, seperti halnya pendistorsian pada peristiwa G30 SPKI yang dimuat pada koran TEMPO.
Sejarah ada karena adanya pelaku sejarah, yang mana pelaku sejarah inilah yang telah berjuang untuk mempertahankan suatu hal yang menjadi titik vital dalam hidupnya, baik dalam memperjuangkan bangsa maupun Negara ini. Mereka telah rela mengorbankan tenaga, materi, bahkan nyawa. Sungguh luar biasa semangat juang yang dimiliki oleh para pejuang waktu itu. Sehingga para pelaku sejarah tersebut yang memiliki andil besar terhadap pertahanan, perkembangan bangsa dan negri ini mendapat gelar sebagai pahlawan.
Berbicara sejarah, mengingatkan kembali pada sosok pahlawan perempuan R.A Kartini. Beliaulah yang telah memperjuangkan harkat dan martabat kaum perempuan untuk memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki. Kartini berkeinginan bagaimana kaum perempuan dan laki-laki memiliki pergerakan senada dan seirama. untuk mewujudkan hal tersebut kartini mencoba untuk membongkar paradigma lama ala perempuan (sumur, dapur, kasur). Statement inilah yang membendung para orang tua pada anak perempuannya terutama dalam hal pendidikan yang beranggapan bahwa setinggi apapun pendidikan yang digapai oleh anak perempuannya. akan tetapi pada akhirnya akan tetap kembali ke dapur juga. Hal tersebut menjadi penopang utama dalam memungut anak perempuannya ketika sudah berumur 12 tahun. Hadirnya kartini telah berhasil mendobrak paradigma-paradigma tersebut dengan berbagai karya tulis yang dihasilkan, seperti halnya buku yang berjudul Habis Gelap Terbit Terang, Surat-surat Kartini akan Renungan tentang  Bangsa, dan juga buku-buku yang didalamnya mengandung feminim.
Perjuangan kartini inilah telah memberikan pemahaman bahwasanya perempuan harus memiliki ruang lingkup yang sama sebagaimana laki-laki dalam segala ruang kehidupan.
Marilah kita koreksi bersama apakah kartini masa kini masih searah dengan apa yang diimpikan kartini yaitu menjadi pelaku sejarah dengan keterampilannya menulis.
Kartini masa kini telah mampu mengepakkan sayapnya dalam dunia kampus (mahasiswa), tanggung jawab mahasiswa tidak hanya menjadi insan akademik saja, akan tetapi juga mampu menjadi agent of change, agent of social control. Hal tersebut mendorong mahasiswa untuk menimbah ilmu diluar kampus seperti halnya organisasi dalam hal ini adalah PMII. Mengingat pada statement Pramudiana Anantatur menyatakan bahwa didiklah mahasiswa dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan koreksi.
PMII merupakan organisasi pergerakan dalam rangka melakukan advokasi terhadap kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat kecil. Sehingga perlu adanya keseimbangan (balance) dalam segi kualitas dan kuantitas. Dikarenakan gerakan aksi atapun turun jalan tidak akan berjalan dengan lancar apabila tidak diikuti dengan persiapan yang matang dengan mengadakan kajian-kajian terlebih dahulu dalam menganalisis permasalahan yang diangkat. Semua itu akan terwujud mana kala budaya literasi tetap digalakkan, akan tetapi pada faktanya sebagian besar kader PMII cendrung mengkomersialisasikan diri untuk menarik perhatian satu dan yang lainnya.juga lebih meluangkan waktunya dalam bermain perasaan. Hal ini cendrung dilakukan oleh senior kepada kader putri dan ketika kader putri mulai terperangkap akan buaian asmara (romantisme) maka idealism awal masuk PMII sudah mulai buyar bahkan menghilang.
Proses yang dilakukan di PMII bukan atas dasar dirinya sendiri akan tetapi karena adanya factor-faktor lain (romantisme) yang telah menggerogoti jiwanya dan yang lebih tragisnya lagi, ketika kader putri dijadikan sebagai piala bergilir. Disadari atau tidak hal ini akan berdampak besar terhadap semangat juang kader putri untuk selalu eksis dalam berorganisasi di PMII. Selain itu,hal tersebut menjadi bumerang bagi kualitas PMII ke depan dikarenakan PMII tidak mampu menggiring kader putri sebagaimana yang diimpikan kartini. Kader putri hanya menjadi korban akan buaian asmara mereka. Sehingga dapat dikatakan kader putri menjadi korban sejarah bukan pelaku sejarah.
Seharusnya antara senior dan kader bekerja sama dalam membangun kualitas PMII kedepan dengan meluangkan waktunya untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang berbau ilmiah seperti halnya kajian, diskusi bersama, dan mengadakan studi banding dengan komisariat-komisariat lain, apabila hal ini telah digalakkan, maka secara otomatis kader akan memiliki sifat kritis baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan. sehingga kader mampu menfilter hal-hal yang akan mematahkan prosesnya di PMII, khususnya kader putri. Sehingga pada akhirnya PMII benar-benar mampu menciptakan kader yang ulul albab.

0 comments:

Post a Comment

Our Blogger Templates Web Design

About This Blog

Pages

About

Recent Post

Slider(Do not Edit Here!)

Navigation (Do not Edit Here!)

Powered by Blogger.

Pages - Menu

Followers

Search Article Here