Benahi Proses Kaderisasi
oleh:SOFIYATUL
INSANI
![]() |
Setiap organisasi pastilah ada proses
pengkaderan yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Pendidikan
dalam PMII dipraktekan dalam bentuk kaderisasi untuk menjadi kader ulul albab
yang akan mendermakan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat.
Kader dalam bahasa yunani yaitu cadre yang berarti bingkai. Kader
berarti orang yang menjalankan amanat, memiliki kapasitas pengetahuan dan
keahlian, pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan
keberlangsungan suatu organisasi. Pengkaderan adalah proses bertahap
dan kontinyu sesuai tingkatan, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan
kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, moral dan sosialnya.
Kader-kader yang secara sadar atau
tidak sadar mengikuti PMII dalam MAPABA merupakan kader yang masih putih dalam
mengartikan dunia baru sebagai aktivis pergerakan. Ketertarikan itu bisa dimulai
dari persamaan visi atau hanya sekedar ikut-ikutan teman atau senior yang masuk
PMII. Akan tetapi permasalahan selanjutnya yang harus kita ungkap adalah
bukanlah mengenai cara mereka masuk, melainkan kemana kader-kader akan
diarahkan setelah masuk kedalam organisasi PMII.
Memasuki usia ke-53 tahun pada bulan
April ini tepatnya pada 17 April 2013, Pergerakan Mahasiswa Islam Indnesia
(PMII) perlu menata kembali semangat dan arah kaderisasi. Memang agak terlalu
jumawa apabila kita masuk dalam jabatan struktural PMII memikirkan seluruh anggota
kader secara keseluruhan, akan tetapi mengupayakan sebuah perangkat spirit
bahwa kita adalah bagian dari ”sahabat” yang akan saling menolong dan kita
bagian dari keluarga yang sangat besar.
Ada Apa Dengan Kuantitas Kader PMII ?
Berdasarkan pembukuan daftar
hadir dalam 3 tahun terakhir, kader PMII komisariat STKIP PGRI sumenep mengalami
penyusutan yang sangat drastis. Ini dapat kita lihat dari sisa kader yang masih
aktif sampai hari ini. Pada angkatan 2010-2011 dari peserta MAPABA 40 0rang
menyisakan 20 orang, angkatan 2011-2012 dari peserta MAPABA 45-50 orang juga
menyisakan sektar 20 orang, dan pada angkatan yang paling junior 2012-2013 dari
peseta MAPABA 86 orang menyisakan sekitar 25 orang. Apa yang sebenarnya menjadi
pemicu dari penyusutan kuantitas kader-kader PMII ini? Mungkinkah proses kaderisasi
kita yang kurang becus atau memang sudah tidak ada lagi semangat berorganisasi
dalam jiwa mahasiswa hari ini? Inilah yang seharusnya menjadi PR yang harus
kita benahi bersama. Meskipun jika nantinya kita dihadapkan pada sebuah pilihan
antara kuantitas dan kualitas, tentunya kita akan lebih memperioritaskan
kualitas, namun PMII juga perlu kuantitas karena dari kuantitaslah kualitas
terbentuk.
Apa Yang Harus Dibenahi ?
Kerangka
berpikir yang harus dibangun dalam menyikapi setiap situasi dengan tetap berlandaskan
pada NDP (Nilai Dasar Pergerakan) juga dengan dua stage berpikir dalam pola pengkaderan.
Pada stage pertama, kita harus menata ulang komitmen dan tujuan untuk mengadvokasi
proses kaderisasi agar benar-benar terarah pada hakekat PMII yang sebenarnya
dengan ASWAJA sebagai manhajul fikr, bukan
malah memanfaatkan proses kaderisasi untuk kepentingan pribadi (mengaca pada
sekian banyak kejadian kaderiasi yang dibingkai oleh romantisme yang justru malah
semakin menjauhkan kader pada komitmen dalam berorganisasi, bahkan bisa menjadi
penyakit kronis yang siap menggerogoti
semangat berorganisasi).
Pada stage selanjutnya, pengkaderan
diharapkan dapat memfokuskan pada bagaimana membentuk format yang baik dengan
menggabungkan pengembangan wacana (teori bangku kuliah) dengan kepekaan sosial
(sense of responsibility). Pada stage ini mahasiwa di bawah naungan PMII diharapkan tidak
hanya sekedar pandai berwacana tanpa ada implementasi konkret yang biasa kita
kenal dengan sebutan NATO (No Action Talk only).
Adalah sangat naib ketika realitas kader PMII yang notabenenya sebagai warga
pergerakan tidak mampu merespon dan menjawab permasalahan kesenjangan sosial di
masyarakat. Berangkat dari membenahi “diri” diharapkan mampu menemukan
semangat yang universal dalam membangun arah pergerakan PMII kedepan.
Apakah kita harus berdiam diri? Apakah
kita hanya akan menjadi penonton dalam
pertandingan?
PMII memerlukan sahabat-sahabat yang
siap berbuat lebih untuk kepentingan maslahat. PMII bukan ajang perlombaan
untuk merebut kekuasaan, bukan pula wadah untuk menbingkai romantisme. PMII
adalah tempat dimana kaum intelektual mengasah diri untuk bakti kepada bangsa
dan organisasi.
Marilah sahabat, kita renungkan dan
resapi perjuangan kader-kader terdahulu, dari semangat mereka dan dari
kepalan tangan kita, kita wujudkan kejayaan PMII. PMII butuh kader yang
berkualitas dan berintegritas.
BANGKITKAN
SEMANGAT PATRIOT KITA UNTUK PMII LEBIH BAIK!



0 comments:
Post a Comment