Pages

Monday, April 29, 2013

ARTIKEL



Benahi Proses Kaderisasi
oleh:SOFIYATUL INSANI


            Setiap organisasi pastilah ada proses pengkaderan yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Pendidikan dalam PMII dipraktekan dalam bentuk kaderisasi untuk menjadi kader ulul albab yang akan mendermakan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat.
            Kader dalam bahasa yunani yaitu cadre yang berarti bingkai. Kader berarti orang yang menjalankan amanat, memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian, pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan keberlangsungan suatu organisasi. Pengkaderan adalah proses bertahap dan kontinyu sesuai tingkatan, situasi dan kebutuhan tertentu yang memungkinkan kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, moral dan sosialnya.
            Kader-kader yang secara sadar atau tidak sadar mengikuti PMII dalam MAPABA merupakan kader yang masih putih dalam mengartikan dunia baru sebagai aktivis pergerakan. Ketertarikan itu bisa dimulai dari persamaan visi atau hanya sekedar ikut-ikutan teman atau senior yang masuk PMII. Akan tetapi permasalahan selanjutnya yang harus kita ungkap adalah bukanlah mengenai cara mereka masuk, melainkan kemana kader-kader akan diarahkan setelah masuk kedalam organisasi PMII.
            Memasuki usia ke-53 tahun pada bulan April ini tepatnya pada 17 April 2013, Pergerakan Mahasiswa Islam Indnesia (PMII) perlu menata kembali semangat dan arah kaderisasi. Memang agak terlalu jumawa apabila kita masuk dalam jabatan struktural PMII memikirkan seluruh anggota kader secara keseluruhan, akan tetapi mengupayakan sebuah perangkat spirit bahwa kita adalah bagian dari ”sahabat” yang akan saling menolong dan kita bagian dari keluarga yang sangat besar.
Ada Apa Dengan Kuantitas Kader PMII ?

Berdasarkan pembukuan daftar hadir dalam 3 tahun terakhir, kader PMII komisariat STKIP PGRI sumenep mengalami penyusutan yang sangat drastis. Ini dapat kita lihat dari sisa kader yang masih aktif sampai hari ini. Pada angkatan 2010-2011 dari peserta MAPABA 40 0rang menyisakan 20 orang, angkatan 2011-2012 dari peserta MAPABA 45-50 orang juga menyisakan sektar 20 orang, dan pada angkatan yang paling junior 2012-2013 dari peseta MAPABA 86 orang menyisakan sekitar 25 orang. Apa yang sebenarnya menjadi pemicu dari penyusutan kuantitas kader-kader PMII ini? Mungkinkah proses kaderisasi kita yang kurang becus atau memang sudah tidak ada lagi semangat berorganisasi dalam jiwa mahasiswa hari ini? Inilah yang seharusnya menjadi PR yang harus kita benahi bersama. Meskipun jika nantinya kita dihadapkan pada sebuah pilihan antara kuantitas dan kualitas, tentunya kita akan lebih memperioritaskan kualitas, namun PMII juga perlu kuantitas karena dari kuantitaslah kualitas terbentuk.

Apa Yang Harus Dibenahi ?
Kerangka berpikir yang harus dibangun dalam menyikapi setiap situasi dengan tetap berlandaskan pada NDP (Nilai Dasar Pergerakan) juga dengan dua stage berpikir dalam pola pengkaderan. Pada stage pertama, kita harus menata ulang komitmen dan tujuan untuk mengadvokasi proses kaderisasi agar benar-benar terarah pada hakekat PMII yang sebenarnya dengan ASWAJA sebagai manhajul fikr, bukan malah memanfaatkan proses kaderisasi untuk kepentingan pribadi (mengaca pada sekian banyak kejadian kaderiasi yang dibingkai oleh romantisme yang justru malah semakin menjauhkan kader pada komitmen dalam berorganisasi, bahkan bisa menjadi penyakit kronis yang siap menggerogoti  semangat berorganisasi).
            Pada stage selanjutnya, pengkaderan diharapkan dapat memfokuskan pada bagaimana membentuk format yang baik dengan menggabungkan pengembangan wacana (teori bangku kuliah) dengan kepekaan sosial (sense of responsibility). Pada stage ini mahasiwa di bawah naungan PMII diharapkan tidak hanya sekedar pandai berwacana tanpa ada implementasi konkret yang biasa kita kenal dengan sebutan NATO (No Action Talk only). Adalah sangat naib ketika realitas kader PMII yang notabenenya sebagai warga pergerakan tidak mampu merespon dan menjawab permasalahan kesenjangan sosial di masyarakat. Berangkat dari membenahi “diri” diharapkan mampu menemukan semangat yang universal dalam membangun arah pergerakan PMII kedepan.
            Apakah kita harus berdiam diri? Apakah kita  hanya akan menjadi penonton dalam pertandingan?
            PMII memerlukan sahabat-sahabat yang siap berbuat lebih untuk kepentingan maslahat. PMII bukan ajang perlombaan untuk merebut kekuasaan, bukan pula wadah untuk menbingkai romantisme. PMII adalah tempat dimana kaum intelektual mengasah diri untuk bakti kepada bangsa dan organisasi.
            Marilah sahabat, kita renungkan dan resapi perjuangan kader-kader terdahulu, dari semangat mereka dan dari kepalan tangan kita, kita wujudkan kejayaan PMII. PMII butuh kader yang berkualitas dan berintegritas.
            BANGKITKAN SEMANGAT PATRIOT KITA UNTUK PMII LEBIH BAIK!

0 comments:

Post a Comment

Our Blogger Templates Web Design

About This Blog

Pages

About

Recent Post

Slider(Do not Edit Here!)

Navigation (Do not Edit Here!)

Powered by Blogger.

Pages - Menu

Followers

Search Article Here